Sebanyak 50 penulis opini dalam buku ini, seperti sedang memandang butiran-butiran telur. Telur itu bernama puisi esai. Fantastis. Penuh inspiratif. Karena itu telur mentah, boleh jadi opinius (penulis opini) ada yang mencoba menelan puisi esai mentah-mentah, jadi obat. Ada juga yang mencoba memasak telur dengan aneka masakan. Ada yang berujud telur ceplok, telur dadar, telur gudeg, dan sejenisnya. Mereka umumnya sedang memandang butiran-butiran telur estetis. Butiran telur itu, dari perspektif antrologi sastra seperti etnografi indah. Etnografi puitik dan esai, boleh ditafsirkan apa saja. Maka, penulis opini dalam buku ini, seperti sedang berolah etnografi estetis. Penulis puisi esai itu seperti memancing tukang masak telur. Artinya, tukang masak itu kadang menggunakan resep dan kadang tanpa resep. Yang penting masakannya sedap. Telur itu tersaji rapi, enak dinikmati. Terserah yang hendak menikmati. Pembaca, sebagai penikmat boleh saja menolak masakan, mengkritik, dan juga acung jempol. Setiap orang boleh berbeda untuk merasakan makanan. Maka hadirnya puisi esai, tak perlu heran kalau ada yang menghirup aroma sedap, bervitamin, dan lezat. Sebaliknya ada yang kurang paham, sering muak dengan masakan itu. Lalu, mereka komentar: ah puisi esai itu sekadar sayur yang dipanaskan saja. Silakan. Brad Evans (2007) dalam artikelnya Introduction: Rethinking the Disciplinary Confluence of Anthropology and Literary Studies, menyatakan bahwa sejak Frans Boas sudah ada kegelisahan terhadap budaya plural yang terungkap lewat sastra. Puisi esai adalah karya sastra unik. Keunikan muncul sebuah lukisan etnografi. Saya bayangkan, para penulis opini tentang puisi esai juga menggunakan konsep 3-K, yaitu (1) konten, artinya puisi itu memuatkandungan nilai, konten yang dalam dan estetis, (2) konteks, artinya puisi esai itu membawa pesan yang melingkupi berbagai hal dalam hidup ini, (3) konstruksi, artinya susunan puisi esai memang ada kekhasan. Kekhasan puisi esai, menurut saya ada getaran etnografis. Maka dalam konteks ini, studi sastra boleh digali dari perspektif antropologi sastra yang memandang konteks hubungan sastra dengan budaya.